Senin, 30 Desember 2019

Perusahaan Sukanto Tanoto Gandeng Petani Swadaya untuk Sejahtera Bersama dan Berdampak Bagi Lingkungan Sekitar


Perusahaan Sukanto Tanoto Gandeng Petani Swadaya untuk Sejahtera Bersama dan Berdampak Bagi Lingkungan Sekitar
Sumber: kompas.com

Stigma negatif yang menempel pada perusahaan sawit memang sulit diubah. Banyaknya praktek operasional yang tidak bertanggung jawab seakan terus memperkuat stigma tersebut. Hal tersebut sangat disadari oleh Asian Agri selaku salah satu produsen minyak sawit terbesar di Asia. Namun bukan hanya itu, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut juga memahami bahwa kelestarian lingkungan juga berperan besar terhadap keberlangsungan bisnisnya.

Pemahaman tersebut mendorong Asian Agri untuk terus mengembangkan diri bukan hanya dari sisi bisnis namun juga dalam hal memenuhi peran sosial yang secara otomatis diemban. Untuk tujuan itulah, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut menggandeng petani swadaya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar sekaligus menekan eksploitasi alam berlebihan.

Menjalin Kemitraan Demi Wujudkan Kesejahteraan Bersama

Asian Agri dikenal sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di Asia. Dengan produksi tahunan mencapai 1,2 juta ton metrik minyak sawit mentah, hal tersebut membuat Asian Agri menjadi salah satu pemain global yang diperhitungkan. Besarnya jumlah produksi tahunan perusahaan Sukanto Tanoto tersebut tidak lepas dari luas lahan yang dikelola.

Sedikitnya Asian Agri mengelola perkebunan sawit seluas 100.000 hektar. Meski demikian, produksi tahunan 1,2 juta ton metrik minyak sawit mentah yang dihasilkan tidak hanya berasal dari perkebunan sawit yang dikelola oleh perusahaan. Asian Agri juga mendapat pasokan buah sawit dari petani swadaya dengan total lahan seluas 41.000 hektar dan 60.000 hektar dalam skema plasma.

Demi memenuhi target produksi minyak sawitnya, Asian Agri membeli sedikitnya 250.000 ton buah sawit dari petani swadaya. Hal tersebut dilakukan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku. Asian Agri melakukannya juga untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani sawit swadaya.

Kemitraan perusahaan Sukanto Tanoto dengan petani swadaya juga sejalan dengan kebijakan no deforestasi perusahaan. Sejak tahun 2003, Asian Agri telah menghentikan perluasan lahan intinya. Sebagai gantinya, unit bisnis Royal Golden Eagle tersebut lebih fokus pada optimalisasi pemanfaatan lahan yang ada dan menggandeng petani swadaya.

Membantu Meningkatkan Daya Saing Petani Swadaya Melalui Program Pelatihan


Berbeda dengan perusahaan besar, petani swadaya memiliki sumber daya yang jauh lebih terbatas. Keterbatasan tersebut sering kali membuat petani swadaya kesulitan dalam meningkatkan daya saingnya, khususnya dalam hal peningkatan kualitas buah sawit yang dihasilkan.

Untuk membantu hal tersebut, Asian Agri kerap mengadakan pelatihan untuk mitra petani swadaya. Praktek agrikultur yang baik dan bertanggung jawab diajarkan dalam pelatihan tersebut. Perusahaan Sukanto Tanoto tersebut juga aktif memberi pendampingan kepada para petani dan siap memberi bantuan bibit dan peralatan untuk membuka lahan tanpa pembakaran.

Selain itu, Asian Agri juga terus mendorong mitra petani swadaya untuk menerapkan praktek pertanian yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab. Perusahaan hanya menerima buah sawit yang telah mendapat sertifikasi dari pemerintah. Namun bukan hanya memberi dorongan, Asian Agri juga siap membantu petani swadaya yang ingin mendapatkan sertifikasi.

Bersama dengan Tanoto Foundation dan United Nations Development Programme (UNDP), Asian Agri membangun pusat Unggulan Program Inisiatif Kelapa Sawit Berkelanjutan untuk membantu petani swadaya mengembangkan daya saing sekaligus mendapatkan sertifikasi yang dibutuhkan.

Kerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) dimaksudkan untuk membantu dalam hal advokasi. Asian Agri juga bekerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah untuk membantu mempermudah petani swadaya mendapatkan sertifikasi.

Dengan cara ini, perusahaan Sukanto Tanoto membantu petani sawit swadaya  meningkatkan daya saingnya. Bukan hanya itu saja, kerja sama dan bantuan tersebut juga diharapkan dapat memperluas praktek pertanian yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.